PENTINGNYA HARMONI DALAM PEMILU SERENTAK 2019

Humas Bawaslu Kabupaten Solok Selatan 09 April 2019

Pameo politik yang masih akrab ditelinga masyarakat diatas jika dibuat dalam bahasa Indonesia menjadi “ Hidupkan lampu kita dan jangan padamkan lampu orang”. Penulis kira sangat relevan  untuk diingatkan kembali. Pasalnya, Indonesia akan menyelenggaran kontestasi demokrasi Pemilu serentak tahun 2019 untuk Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota (Pileg) serta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) pada 17 April 2019 mendatang. Tentu masyarakat berharap alek demokrasi itu tetap dilaksanakan dalam koridor Badunsanak.

Pameo ini memberikan makna bahwa segala dinamika dan persaingan politik menuju kursi Presiden dan kursi Dewan harus dilaksanakan secara santun, terhormat, beradab, harmoni dan menjauhkan kata-kata menghina, menjelek-jelekkan lawan, menyebar berita-berita hoaks dan menyerang dalam bentuk tulisan, lisan maupun gambar dan segala hal lainnya.

Sebab, jika kandidat atau caleg melakukan hal sebaliknya maka struktur dan bangunan sosial dan harmoni yang telah terjalin dengan baik di negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) berpotensi akan retak dan pecah. Tentu hal ini tidak diinginkan oleh bagi siapapun Putra terbaik bangsa atau tokoh-tokoh masyarakat yang akan bertarung dalam perhelatan Pemilu Serentak tahun 2019 nantinya.

Artinya, walaupun berbeda warna baju, bendera partai,  visi misi, program serta kebijakan yang diusung namun pada Pemilu Serentak tahun 2019 tetap dilaksanakan dengan hati yang  sejuk, dada yang lapang, pikiran yang jernih. Persaingan dalam perebutan kursi Presiden dan kursi Dewan ditingkat RI, Provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota harus diletakkan dalam bingkai “Badunsanak” sebagaimana yang dianjurkan dalam adat/budaya Minangkabau. Semua konsep dan strategi yang diciptakan tetap ditujukan demi Indonesia yang lebih maju dan lebih baik di masa-masa mendatang.

Ketika dikaitkan dengan perkembangan politik akhir-akhir ini khususnya dalam konteks persaingan perebutan jabatan untuk posisi DPR sangat banyak diminati oleh tokoh-tokoh Muda, baik yang ada di kampung halaman maupun di daerah perantauan.

Tokoh-tokoh yang berada diperantauan “turun gunung” kembali ke kampung halaman untuk memperbaiki dan membangun  dengan segala kelebihan dan kelemahan  Kampung halamanya. Beberapa diantaranya memilih untuk loncat pagar. Barangkali disebabkan sulitnya mencari dukungan politik saat ini dan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR tentu saja membutuhkan uang yang tidak sedikit.

Tidak hanya itu, persaingan perebutan kursi DPR akan semakin dinamis karena diikuti oleh beragam latar  yang  sudah mulai unjuk gigi dan menunjukkan diri untuk maju pada Pemilu Serentak 2019 seperti banyak kita temui sepanjang jalan gambar, baliho dan spanduk sudah ada mana-mana. Namun yang patut kita bersyukur adalah masih tetap dilaksanakan secara santun, ramah dan  belum ada tindakan menyerang dan memburuk-burukkan pihak lawan. Kita ingin kondisi ini tetap dipertahankan.

Banyak diketahui, bahwa konflik dan pertikaian yang terjadi sama-sama pendukung dalam Pemilu Serentak tahun 2019 ini disebabkan oleh kandidat atau caleg yang tidak menjaga perkataan dan perbuatannya ketika berhadapan dengan pihak lawan sehingga  kubu-kubu pendukung  masing-masing  kandidat atau caleg bertindak  emosional.

Tindakan emosional itu hanya akan merugikan. Luapan kemarahan tak lagi dapat dibendung terutama yang sering terjadi dalam Pemilu yang sangat dekat hubungan emosional dengan masyarakat. Peristiwa itu tentu saja  tidak kita kehendaki  terjadi di indonesia khususnya Sumatera Barat.

Agar itu tidak terjadi maka Pemilu Serentak tahun 2019 yang dilaksanakan sekali lagi dalam koridor “Badunsanak” dipandang perlu digelorakan kembali dan tidak hanya pada tataran permukaan tetapi hendaknya ada dihati dan sanubari baik ditataran elit politik yang berkompetisi, ditataran penyelenggara pemilu maupun bagi rakyat semuanya.

Tidak ada gunanya  aksi saling serang, saling pukul dan baku hantam antar sesama kita.  Pola-pola yang menonjolkan aspek kekerasan  tentu tidak baik dalam mewujudkan Pemilu Serentak tahun 2019  dan itu hanya akan menodai dari gemilang sukses Pemilu yang luber-jurdir itu sendiri. 

Penyelenggara Pemilu KPU dan jajarannya sampai ditingkat KPPS yang melaksanakan Pemilu harus sesuai dengan aturan dan tidak berpihak kepada calon-calon tertentu dan peserta berkontestasi dengan menjunjung tinggi asas sportifitas dan tidak melakukan kampanye hitam dan menghindari politik uang dan Bawaslu sampai ditingkat Pengawas TPS tentu harus tegas untuk menindak Peserta Pemilu yang melanggar aturan. Tidak boleh pilih kasih, tegakkan aturan dengan setegas-tegasnya agar tercapainya niat rakyat mencari pemimpin negarawan. Jika sinergi antara rakyat, penyelenggara dan peserta Pemilu itu ada, maka kita optimis Pemilu di Indonesia yang dilaksanakan secara serentak pada 17 April mendatang akan mampu melahirkan pemimpin negarawan.

Pemilu serentak tahun 2019 yang  digelar oleh Komisi Pemilihan Umum yang telah mengantarkan tokoh-tokoh yang menduduki posisi saat ini terjadi tanpa pertumpahan darah setetes pun, dan kondisi ini harus kita pertahankan dan tingkatkan lagi pada Pemilu serentak mendatang.

 Tidak ada gunanya bagi warga negara indonesia ketika berbeda pilihan maka putus pula hubungan badunsanak. Sebab, hubungan badunsanak bagi orang Minangkabau sampai mati. Bahkan, sudah mati pun kita diminta pula untuk mendo,akan agar saudara-saudara kita diberi kelapangan oleh-Nya.

Orang yang memutuskan hubungan silaturrahmi dan badunsanak karena berbeda pilihan diatas sangat kita sesalkan dan kita minta kembali untuk merajut kembali hubungan silaturrahmi itu dan ini sudah keterlaluan dan bertolak belakang  dalam apa yang diharapkan oleh rakyat Indonesia.

Oleh karenanya tidak benar lagi apabila berbeda calon yang dicoblos dalam bilik suara itu maka hubungan dunsanak retak. Pemilu Serentak yang dilakasanakan nanti adalah untuk memilih pemimpin kita. Yang lebih penting adalah jangan sampai kita salah pilih seperti membeli kucing dalam karung.

Sebab, ketika  salah pilih kita pun dapat imbas atas kebijakan dan keputusannya dan yang kita  pilih salah itu bukan memerintah untuk satu  bulan, dua bulan  melainkan untuk jangka waktu lima tahun hingga pemilu berikutnya tiba.

Sebelum pilihan dijatuhkan maka dilihat dulu, dirasai-rasai dulu, dibaca dulu, dipikirkan dulu. Jangan karena mentang-mentang orang sekampung, mamak, kemenakan, sasuku, sadatuak, sajurai, sesama alumni, sesama pengajian,sesama kuliah,  sesama baburu atau karena pernah diberi bantuan dan lain-lain sebagainya.

 

Kita harus hilangkan ikatan-ikatan primordial  yang sempit itu. Biar dia dari suku mana, alumni mana, datuak dari keturunan mana, kuliah dimana. Jika dia mampu membangun Indonesia bangkit dari keterpurukan sehingga sejajar dengan negara lain  maka pantas kita dukung.

Setidaknya, paramater itu yang paling krusial untuk menentukan apakah Pemilu serentak tahun ini mampu melahirkan pemimpin-pemimpin negarawan. Rakyat diberikan ruang untuk berpartisipasi secara luas dalam melakukan pengawasan terhadap kecurangan-kecurangan dalam Pemilu, rakyat juga tidak memilih karena uang dan sogokan melainkan dengan melihat sepak terjang Calon yang akan dipilih. Jika ini dapat dilakukan maka penulis yakin bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik dan lebih maju  di masa-masa mendatang.  (Yusmardi/Staf HPP Bawaslu Kabupaten Solok Selatan)